Archive for February, 2009

Sensei’s Quotes

Saturday, February 28th, 2009

sensei

Ok, berikut ini beberapa quote dari sensei saya,

Give me an intuitive answer !

Kata-kata yang sering diucapkan oleh Ochi-sensei ketika berdiskusi bersama anggota lab. Beliau selalu menekankan kepada anggota labnya untuk memahami permasalahan secara komprehensif.

O’o.. it is not good.    /   No, it is wrong.

Seringkali diucapkan saat menemui kondisi yang buruk atau saat menemukan kesalahan pada pekerjaan kami.

Wow, you made it by yourself? So, you don’t need a wife (and then laughing)

Diucapkan saat sensei melihat saya makan siang dengan bekal makan siang yang saya buat sendiri di rumah.

Good job !

Diucapkan saat kami berhasil menyelesaikan tugas dari sensei.

Sensei : No, it is wrong Kanji. Maeda wrote wrong kanji.

My friend : Eh, really? I don’t know sensei.

Sensei : Maeda isn’t a true Japanese. Just look at his face.

My friend : Really? From what country is he?

Sensei : He he he.. no I just kidding

Saat sensei memeriksa form aplikasi beasiswa teman saya (mahasiswa asing) yang diisi oleh teman jepang satu lab saya.

Sensei : Yeah this is a popular coffee brand. I often read in Indonesia coffe pack.. Kopi Bubuk

Diucapkan saat teman saya membawakan oleh-oleh kopi dari Indonesia.

Sensei : What do you say in Indonesia language when you want to say ‘kanpai’ ?

My friend : Bismillah

Sensei : Ok, everybody say ‘Bismillah’…!

All lab’s member : Bismillah..!!

Diucapkan saat akan membuka pesta kelulusan anggota lab yang diadakan di lab. (Kanpai, adalah kata-kata yang diucapkan oleh orang Jepang saat akan memulai sebuah acara, biasanya dibuka dengan minum-minum).

Lain kali saya akan bercerita tentang sensei saya.   :)

ngobrolin Kembalikan Tidur-Hangat-ku!

Saturday, February 28th, 2009

kamargue2

Melihat gelagat-gelagat yang tidak baik seperti perut yang mulai membuncit (yang diduga keras isinya cuma angin doank) dan seringnya kena radang tenggorokan maka tempat tidur yang dekat dengan jendela akan dipindahkan ke posisi baru, sok dilihat di gambar.

Ada 3 keuntungan dari tempat yang baru. Pertama, ya tidak gampang sakit lagi. Entah kenapa celana-celana saya jadi sempit. Uang gajian untuk makan sesuka hati aja tidak punya dan olahraga yang jelas-jelas kelewat berlebihan, masa perut ini tiba-tiba membuncit. Mencurigakan. Kedua, tidur tidak akan kena air hujan lagi. Somehow, embun-embun itu malu-malu masuk lewat ventilasi dan membuat daerah sekitar jendela menjadi lembab dan itu DINGIN SEKALI!! Ketiga, akan lebih nyaman untuk membuka jendela karena tidak perlu lagi naek-naek tempat tidur buat buka jendela. Tidak esensial sih tapi ya lumayan.

Selain keuntungan, kerugiannya pun muncul, yaitu tidak bisa membaca buku sambil tiduran di siang hari karena posisi yang baru agak gelap. Tapi tidak apa-apalah daripada mesti membuncit. Hahaha! Para pria-pria buncit, maafkanlah teman Anda ini, karena ingin kembali menjadi pria-pria berperut six-pack! (mimpiiiiiii!!!)

Ok, mari angkat-angkat! Demi tidur yang HANGAT! Yang mo bawain makanan boleh! Ditunggu!

Open your heart?

Saturday, February 28th, 2009
Why is so many recently who said that I must open my heart?
I wonder why... I wonder why? He said ask your heart bro, she said open you heart bro, they said that's the key bro... What are they talking about, really? I coundn't get it. I still couldn't get it. But I try to understand it.

Lalu, dengan apakah engkau “berdendang”?

Saturday, February 28th, 2009
Suatu ketika, seorang ulama atau syaikh mendatangi sebuah kaum. Dia berjumpa dengan salah satu pemuda yang tampak masih segar bugar. Syaikh itu menyapanya lalu bertanya dengan pertanyaan yang biasa dia tanyakan kepada pemuda di kotanya.

"Wahai pemuda, berapa ayat (Al-Qur'an) yang sudah engkau hafal?"

Tanya syaikh tersebut dengan mantap.

"Belum satu pun ayat yang kuhafal"

Pemuda itu menjawab dengan jawaban yang tidak dinyana-nyana oleh syaikh tersebut. Jawaban yang membuatnya kaget. Kontan syaikh tersebut langsung menimpalinya.

"Lalu, dengan apakah engkau "berdendang"??"





...

Nama Labtek-ku Berganti

Friday, February 27th, 2009
Dalam salah satu adat-istiadat, kalo orang ganti nama biasanya bikin bubur merah dan bubur putih, kalo Labtek-ku ini bikin apa ya?


Bagi teman-teman mahasiswa atau ex-mahasiswa teknik elektro ITB, pasti dah familiar banget sama Labtek VIII. Kalo dulu sih, terkenal dengan spot OSPEK. Pasti disuruh kumpul di parkiran Labtek VIII [jadi kangen]

Nah sekarang, Labtek kita ini sekarang punya nama baru. Karena cuma pake camera HP yang ga canggih, jadi ga keliatan ya?! Di sebelah kanan kipas AC yang nongkrong 2 biji di gambar di atas, ada tulisan besar-besar: "AHMAD BAKRIE"

Ini-lah nama baru Labtek kita. Nah itu nama yang bagus atau tidak. Tapi, kalo Sa sih ngerasanya kurang sreg aja. Labtek VIII identik dengan Elektro. Kenapa ga yang nempel di gedung itu nama salah satu tokoh dibidang elektro. Kenapa mesti pak Ahmad Bakrie. Sa tau, bapak ini adalah salah satu tokoh Indonesia yang patut di hargai, tapi dalam bidang Ekonomi dan semacamnya, bukan Elektro. Kalo nama ini nongkrong di Gedungnya SBM, baru lah agak pas.

Sa lebih setuju kalo Labtek kita ini dikasih nama Edison, Newton, Fourier, Chua, atau nama tokoh-tokoh Kelektroan yang pernah bikin kita pusing dengan teori-teorinya di bangku kuliah. Oh iya, ga mungkin lah nama-nama salah satu tokoh kita nongkrong di Labtek kita, wong ga ngasih duit ke ITB. [ups, mulai skeptis..... kesel sih]

Mengakali angkot ngetem

Sunday, February 22nd, 2009
Petang itu gw lagi pulang naik angkot dalam keadaan capek, pengennya cepet2 sampe rumah dan istirahat.. Yahhh si abang malah pake acara ngetem segala. Monyong lah.. - Ngetem pertama kali gw akali dengan ngambil hp dan nelpon temen gw.. Ngobrol ngalor ngidul, bla2… Eh angkotnya berangkat.. Senang.. Berarti bisa segera sampai rumah.. - Tapi gak lama kemudian si abang angkot ini [...]

Palembang

Saturday, February 21st, 2009
Hasil drama penculikan jam 12 malem di palembang… Palembang, 10-12 Februari 2009 Nb : buat si penculik yang dah motoin : maacih… :) Posted in Hikmah Di Balik Peristiwa

The F mistakes…

Friday, February 20th, 2009

Pemakaian kata ’secara’ untuk menggantikan ‘berhubung’…

Penggunaan huruf e sebelum r yang nggak perlu, misalnya pada ‘Inggeris’ dan ‘isteri’…

Menulis di sebagai kata depan ketika digunakan untuk menandakan kata kerja pasif (misalnya ‘di makan’…)

Kesalahan-kesalahan di atas belum tuntas ditanggulangi, sekarang ada lagi salah kaprah berbahasa Indonesia yang mulai sering terjadi. Emang sih, gua bukan orang yang biasa atau ingin memakai bahasa baku dalam kehidupan sehari-hari. Lihat aja blog ini. Tapi gua percaya ada saat-saat di mana bahasa Indonesia yang baik dan benar mutlak harus digunakan, dan gua termasuk orang yang terganggu kalau melihat tata bahasa tulisan yang kacau, apalagi di koran atau media massa lainnya.

Di bahasa Indonesia kan ada akhiran -itas atau -asi yang diserap dari akhiran -ity dan -ation dalam bahasa Inggris. Entah kapan dan di mana, tiba-tiba ada yang merasa kalau suatu kata berhuruf terakhir f dikonjugasikan dengan akhiran ini, kata dasarnya nggak perlu diganti jadi berakhiran v. Dan banyak orang mengikuti pemikiran ini.

Jadinya, mulailah orang menulis ‘aktifitas’ bukannya ‘aktivitas’, ‘motifasi’ bukannya ‘motivasi’.

Karena merasa ini aneh, gua pun memeriksa KBBI Daring (dalam jaringan, bahasa Indonesia dari online). Harusnya kan Kamus Besar Bahasa Indonesia jadi acuan utama bahasa Indonesia ya. Hasilnya? Nggak ada tuh kata ‘aktifitas’ ataupun ‘motifasi’. Yang ada tetap ‘aktivitas’ dan ‘motivasi’. Kalau nggak percaya silakan cek sendiri..

Karena itu ingatlah pembaca, ejaan yang benar itu ‘aktivitas’, sesuai kata aslinya ‘activity’, dan ‘motivasi’ seperti ‘motivation’. OK? :-D

Tulisan yang Tercipta karena Banyaknya Orang yang Berbuat Onar..

Friday, February 20th, 2009
Teruntuk teman-temanku yang sangat.. sangat… amy sayang… Dibagian dari blog yang satu  ini amy ingin mencurahkan manis-asin-pahitnya menjadi bagian dari momen kebahagian kalian… Hmm amy merasa perlu menulis ini karena hari ketika kalian memberi tau kabar itu adalah hari yang sangat… sangat… ajaib untuk hati amy… Jadi penasaran kan? Hm kita mulai dari awal aja yah… Hmm memulai dari [...]

Happy Birthday Jack..

Thursday, February 19th, 2009
Pagi ini ada pesan masuk dari seseorang di pantai timur Jawa.. Membuat gw..  tercenung membacanya. Wew.. Tumben.. Lalu gw mengingat hari. Ah,, Hari ini ultah sapi kami.. Ultah kedua! Jacky adalah seekor sapi yang menyaksikan dari awal hingga akhir kisah kami dengan mata lugunya.. (seekor?? Iya, gmnapun si Jacky kan tetep punya ekor..) Karena portablitasnya yang tinggi, Jacky mudah dibawa2 kemana saja kami biasa [...]

Another Kota Tua Hunting…

Wednesday, February 18th, 2009

14 Indonesian Students of Ajou University (second part, final part, finally)

Wednesday, February 18th, 2009

A long time ago, i wrote this with intention to briefly introduce my family here in Ajou University and also practice my english on writing. That was only the first part. There should’ve been another part, i promised that, but i’ve been postponing it for months. Now its time to finish what i’ve started.

To begin with, i’d like to inform u all that today some of those 14 people are already back in Indonesia (Sidum, Megan, Sasha) and 4 others will follow by the end of this month (Jamak, Siti, Tessa, Unggul) Back to the warmth and surrounded by delicious foods. Well, lets get started…

The last person of graduate student team, Qonita. She is my comrade, together we are the second term IT ISIP invitees from Indonesia. We studied Korean and English together (also featuring Tu, a Vietnamese) for four months before enrolled to Ajou University and be accepted as graduate student there. She is focusing on computer vision now, funded by the last IITA Scholarship.

I’ve introduced you with all graduate students here in Ajou University. For the second term, its time for the exchange students.

The first one is Megan, a business-oriented cooking-skilled narcissus-minded humor-loved student of Parahyangan Padjajaran University. With Mike he evolved into dormitory-class chief with some infamous recipes, such as Opor Ayam Kolaborasi. Another achievement he made was being a martial art entertainer in Ajou International Day 2008.

Second, Sasha. She is truly a public relation girl. Marvelous english ability, open and warm personality, great communication skill, plus broad social circle. Being the youngest from all of us, she often quarrelled with Sidum for unimportant trivial things. A consoling sight to see.

Last but not least, the IT ISIP Team. It consists of 4 males and 2 females, 4 informatics and 2 electrical engineers. Lets get closer..

Dina. She shares lots with me. Same university, same class, same major, same final project adviser, even same System Engineering grade (an A from Prof. Jon, what a lifetime achievement TT) We also live next to each other back in Cisitu Baru, Bandung. The only thing i dislike about her, she is better than me. She graduated first with higher GPA, she gets better graduate school, yet she is older (ruuun!!)

Made. A breath-taking dancer! Thanks to him we could show the international audience how sacred a Balinese dance is. He is also very good at singing, sport, and studying. Totally opposite with me. Another information, he will also stay in here Korea to pursue his master degree in Chung Ang University, though we are still not so sure whether he will study or work or do servitude there.

Siti. Frankly speaking, she is the most senior between all invitees. One thing for sure, she totally enjoys her life time here as IT ISIP invitee. A full time access of internet where she can freakingly download, stream, read, watch, and listen all that ‘oriental’ songs, mangas, movies, etc. Her english is a very good, a notable skill i’d like to mention. And the other thing that makes this journey much better for her: she can leave her old workplace and get some relax.

Tessa. Half Korean. He enjoys Korean songs and movies and dramas and TV shows a lot. I do believe that his Korean is the best among us 14 since he must be studying Korean because he loves it, not because he has to, just like the remaining others. He will certainly continue his study here though unfortunately he could not do it right now since he is still struggling with his final project.

Unggul. Another case of me, though I didn’t know it at first. I mean, he is as old as me but we enter the university at the same time, which is 2 years younger than normal. Already graduated, the only thing that prevented him to not apply for Korean University is a chance for better university. I sincerely hope the best for him. Btw, i heard that he is very skillfull at cooking.

Zamak. The undergraduate student other than Tessa. Just like the others, he enjoys his life in Korea (mostly because of the unlimited internet access, i believe) but dislikes the Korean Language Course itself, the one who actually brings us here. Trivial fact, last year he attended an international culture camp (or something) in Gwangju for his paper about Komodo Island. Too bad he didn’t send it over to CISAK.

Well, my homework is finished. By the end of this month, Indonesian student in Ajou will reduce to only 5 students. But a hope is coming from Spring semester exchange students from Parahyangan University. A bird said that there will be 9 or 10 of them. Sadly, the IT ISIP program stopped so no new invitee next semester. Also, two GSIS girls are planned to finish their study and leave Korea perhaps in April. How about a new GSIS student? Some said that there will be one. Lets see…

Posted in Korea (Han guk)

Terjemahan Bebas Freakonomics: Sebagian Pengantar

Wednesday, February 18th, 2009

PENGANTAR: SISI TERSEMBUNYI SEGALA HAL

Siapa pun yang hidup di USA pada awal era 90an dapat dimaafkan atas ketakutannya, bahkan jika mereka hanya memperhatikan sekilas berita malam atau koran pagi.

Penyebabnya adalah kriminalitas, yang berkembang pesat tanpa ampun–sebuah grafik yang menggambarkan tingkat kriminalitas di tiap kota di USA dalam dekade terakhir terlihat seperti lereng ski–dan . Kematian oleh senjata api, baik sengaja ataupun tidak, telah menjadi makanan sehari-hari. Begitu pula pencurian mobil, penjualan obat bius, perampokan dan pemerkosaan. Kejahatan dengan kekerasan . Dan keadaan pada saat itu akan menjadi lebih buruk. Jauh lebih buruk. Semua ahli berkata begitu.

Predator super, begitu mereka menyebutnya. Pada masa itu, dia ada dimana-mana. Memandang bengis dari halaman pertama surat kabar-surat kabar. Berjalan congkak melalui laporan-laporan tebal pemerintah. Anak muda kota besar kurus dengan senjata di tangannya dan tanpa suatu apapun di hatinya selain sifat jahat. Mereka ada ribuan, begitu diceritakan, generasi pembunuh yang siap mengacaukan dan memorakmorandakan negara.

Pada tahun 1995 kriminologis James Alan Fox menulis sebuah laporan kepada Jaksa Agung yang dengan suram menggambarkan ramalan peningkatan tingkat pembunuhan oleh remaja. Fox mengajukan dua skenarion, optimistis dan pesimistis. Dalam skenario optimistis, dia meyakini bahwa tingkat pembunuhan oleh remaja akan meningkat 15% pada dekade yg akan datang; dalam skenario pesimistis, persentase tersebut menjadi lebih dari dua kali lipat. “Akan datang gelombang kriminalitas yang sangat parah,” katanya, “sedemikian sehingga tahun 1995 akan tampak seperti masa-masa tenang yang begitu indah”

Tetapi bukannya semakin menjadi-jadi, tingkat kriminalitas malah menurun. Terus jatuh hingga titik tertentu. Penurunan tingkat kriminalitas sangat mengejutkan, ditinjau dari berbagai sisi. Kejadian ini muncul di mana-mana, berbagai jenis kriminalitas menurun di tiap bagian negara. Stabil, dengan penurunan yang meningkat dari tahun ke tahun. Dan benar-benar tidak terduga–terutama oleh para ahli yang memprediksi sebaliknya.

Keadaan berbalik dengan angka yang sangat mengherankan. Tingkat pembunuhan oleh remaja, bukannya naik 100% atau bahkan 15% sesuai ramalan James Alan Fox, malah turun sebesar lebih dari 50% dalam lima tahun. Pada 2000 tingkat pembunuhan secara keseluruhan telah jatuh pada titik terendahnya dalam 35 tahun. Begitu pula tingkat kriminalitas lainnya, dari penyerangan sampai pencurian mobil.

Meskipun para ahli telah gagal meramalkan penurunan kriminalitas–yang dalam kenyataannya jauh dibawah prediksi menakutkan mereka–mereka langsung berlomba-lomba menjelaskan fenomena tersebut. Sebagian besar teori yang dihasilkan terdengar sangat logis. Kebangkitan ekonomi 90an, sebut mereka, yang membantu penurunan kriminalitas. Perkembangan hukum kepemilikan senjata, sebut yang lain. Teori lain menyebutkan strategi kebijakan inovatif yang diterapkan di New York City, di mana pembunuhan menurun dari 2.245 pada 1990 menjadi 596 di 2003.

Berbagai teori ini bukan hanya logis; tetapi juga membesarkan hati, dengan memberikan kredit atas penurunan kriminalitas pada prakarsa manusia tertentu. Jika kita dapat memberangus kriminalitas dengan pengaturan senjata dan strategi kebijakan yang tepat dan pekerjaan yang lebih menjanjikan–baiklah, itu berarti kemampuan untuk menghentikan penjahat ada di tangan kita. Begitu pula jika di masa yang akan datang, semoga saja tidak, kejahatan memburuk kembali.

Teori-teori tersebut pun menemukan jalannya, hampir tanpa ada yang mempertanyakan, dari mulut para ahli ke telinga jurnalis hingga ke pemikiran publik. Dalam jangka waktu yang tidak lama, teori-teori itu dianggap sebagai conventional wisdom, kebenaran publik.

Hanya saja ada satu masalah: Teori-teori itu tidak benar.

Ada faktor lain, sementara itu, yang telah berkontribusi besar pada penurunan masal kriminalitas era 90an. Faktor ini telah menancapkan akarnya sejak 20 tahun ke belakang dan menyangkut wanita muda di Dallas bernama Norma McCorvey.

Bagai kisah kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya di suatu benua dan menimbulkan tornado di benua lain, Norma McCorvey secara dramatis mengubah jalannya suatu kejadian tanpa disadari. Yang dia inginkan hanyalah aborsi. Wanita usia dua puluh satu yang miskin, tak berpendidikan, tanpa keahlian, pembabuk, dan pengguna obat bius ini sebelumnya telah menyerahkan dua anak untuk adopsi dan kini, pada 1970, ia hamil lagi. Tapi di Texas, sama seperti di hampir semua negara bagian lain, aborsi ilegal. Perkara McCorvey ini diterima banyak orang jauh melebihi bayangannya sendiri. Mereka menjadikan ia penuntut utama dalam tuntutan hukum untuk melegalkan aborsi. Pihak tergugat saat itu adalah Henry Wade, pengacara distrik Dallas County. Kasus ini pun sampai ke pengadilan tinggi US, pada saat itu nama McCorvey disamarkan menjadi Jane Roe. 22 Januari 1973, pengadilan memutuskan untuk menerima tntutan Ms. Roe, memperbolehkan aborsi yang dilegalkan di seluruh negeri. Pada saat itu, tentu saja, telah terlambat bagi Ms. McCorvey/Roe untuk melakukan aborsi. Dia telah melahirkan dan memberikan anaknya pada adopsi. (Bertahun-tahun kemudian dia malah meninggalkan keyakinannya pada aborsi legal dan menjadi aktivis pro-kehidupan.)

Lalu bagaimana seorang Roe v. Wade menjadi pemicu, satu generasi kemudian, penurunan kriminalitas terbesar sepanjang sejarah?

Berbicara tentang kriminalitas, dapat dikatakan tidak semua anak dilahirkan sama. Tidak sedikitpun. Studi bertahun-tahun telah menunjukkan bahwa seorang anak yang lahir di keluarga yang buruk berpotensi untuk menjadi kriminal dibandingkan anak-anak lainnya. Dan jutaan wanita yang cenderung untuk melakukan aborsi pasca Roe v. Wade–wanita remaja miskin dan tidak menikah yang bagi mereka aborsi ilegal dulunya terlalu mahal atau sulit didapatkan–sering menjadi acuan kemalangan. Mereka lah wanita yang anaknya, jika dilahirkan, akan lebih berpotensi di atas rata-rata untuk menjadi kriminal. Akan tetapi karena Roe v. Wade, anak-anak ini tidak dilahirkan. Penyebab utama ini akan memberikan efek yang drastis dan jauh ke depan: bertahun-tahun kemudian, tingkat kriminalitas mulai jatuh.

Bukan kontrol kepemilikan senjata atau ekonomi yang kuat atau strategi kebijakan baru yang pada akhirnya menghentikan arus kriminalitas Amerika. Faktor penyebab itu adalah, dibanding faktor-faktor lainnya, kenyataan bahwa kriminal potensial telah menyusut secara dramatis.

Lalu sekarang, saat para ahli penurunan-kriminalitas (dahulunya ) menyebarkan berbagai teori pada media, berapa banyak menyebutkan pelegalan aborsi sebagai penyebab?

Nihil.

Catatan:  Tulisan ini dibuat dengan menerjemahkan secara bebas (versi penulis) sebuah buku berjudul Freakonomics: A Rogue Economist Explores the Hidden Side of Everything karangan Steven D. Levitt and Stephen J. Dubner halaman 3-6. Sekelumit resensi bisa dilihat di sini. Tulisan ini akan (diusahakan untuk) terus direvisi sesuai kemampuan penulis.

Posted in ekonomi

CISAK 2009: A Report (or Story) from Me

Monday, February 16th, 2009

Last week had been very busy for me. It was hectic yet I enjoyed it very much. What was going on? It could have not happen as if I didn’t ask Dwian about one program of Perpika 3 months ago, or so. It is a conference, whose topic broadens from natural to social science, from art to engineering. It is indeed a non-specific theme conference, since its main goal is to be a sharing place of ideas from so diversed students, majors, interests, even places. The one who relates all of that persons is Perpika, an association for Indonesian student in South Korea. That’s why this so-called conference named Conference of Indonesian Students at Korea, a.k.a. CISAK.

The story goes with Dwian asked me to be a member of his team as event coordinator. I approved it and for some weeks later there were several online meetings to be deal with. But then came months of hiatus, marked by final test and winter vacation. Still, some progresses were made until finally the time was coming. February 15 2009, Indonesian Embassy. That’s the conference time and place. Some face-to-face meetings being held dealt with technical preparations of the event. The main issues were lunch meal (mainly correlated with fund), presenter ( lack and uncertainty of material and person), and accommodation. But the committee succeeded to take care of it calmly and elegantly.

February 14 2009. Preparation time. Started from half past 5, we creatively decorated the venue to properly host a conference. Arrange the audience seats, presentation peripherals, partition for photo and poster session, move tables and chairs here and there, set the banner, even create a mushalla–place for muslim to pray. It was almost 8.30 when I accompanied Dwian for dinner and then went home to Suwon. Back to the embassy, Mr. Lee, its a band name, were rehearsing to console the after-conference audience.

Now lets report the CISAK on the day itself. It was 8.30 when I arrived at the embassy. Some members of the committee have been there before me. It was not truly hectic, mostly we were waiting for people. And finally it was decided to postpone the conference from 9.30 to 10.00. Adjustments were made to the original plan. Approximately 9.50 I knocked #502 room of embassy housing and called for Mr. Foster Gultom–ad interim in charge of Minister Counselor. The welcoming speeches commenced the conference, in order from CISAK project officer, Perpika President, and Mr. Foster Gultom. A timing miscalculation occurred and the official opening was done at almost 11 by sounding a gong.

First Session of Presentation was moderated by Mikael Fernandus Simalango. The topics presented were ranged from A Business Opportunity in Korea (Arief Fadillah), Seawater Desalination (Noka Prihasto), and Microfobial Fuel Cell (Windi Indra Muziasari). Another presentation about tellecomunication convergence in Indonesia was cancelled due to technical matter. For almost 2 hours straight, the audience were informed by various insights coming from the experts. But before 1, the presentation session was adjourned and lunch time was launched.

Second Session of Presentation was started at 2. Moderated by Windi Indra Muziasari, this time we talked about Juridical Rights of Indigenous People in Indonesia (Andrea Albert Stefanus), Hydrogen and Fuel Cell (Hary Devianto), then closed by Linguistic Ambiguity (Prihantoro). The last presentation, I personally think, was suitable to bridge a serious and fun section of CISAK, amusing and easy listening. Thanks to the strict moderator, this session finished on time, 15.30. After that, we had a coffee break plus photo and poster session for another half an hour.

I named the last session as ‘Acara Perpika’, which is directed to be a fun familiarity session since the other coin side of this event is gathering. At first, there was almost nothing scheduled here. But eventually, we had a report presentation from three regions of Perpika and music show. The presentations took time of 45 minutes and the show was 30 minutes. We had Andy Tirta Boy, Hadi PS, and Hardian Reza D. who elaborated activity and progress of each region. And finally, Mr. Lee warmed the air with five remarkable self-made songs.

In the end, the conference was closed by the President of Perpika. Most of the audience work together with the committee to order the venue again. But still the committee must do the ‘final touch’ so that there is no difference before and after the show. A promise we made to the embassy.

I am so glad that the event was successful. At first, there was a big worry because of the submitted papers quantity, the limited sponsorship from the embassy, etc. But thankfully all of it has been passed away and left sweet memories. A high respect and thanks given to all committe members, contributors (paper, poster, presentation, music show), moderators, and the audience. I sincerely hope that the same event could be held again next year with bigger scope and result.

Jurnalisme dan Perubahan Iklim: USA Case

Thursday, February 12th, 2009

Bayangkan jika para ilmuwan mengumumkan bahwa sebuah meteor raksasa sedang mendekati bumi. Dalam waktu kurang dari sepuluh tahun ke depan, meteor tersebut akan menabrak bumi dan mengakibatkan bencana besar, mungkin bahkan kepunahan umat manusia. Bagaimana sikap para jurnalis mendengar pengumuman tersebut? Sudah pasti, peristiwa tersebut, begitu pula usaha pencegahannya, akan menjadi berita utama di berbagai media. Pers akan menjadi perpanjangan tangan para ilmuwan untuk menginformasikan masyarakat sekaligus menghimbau langkah-langkah apa yang bisa diambil untuk mencegah bencana tersebut.

Dalam kasus perubahan iklim, bisa dikatakan bahwa KITA–MANUSIA–lah meteor tersebut. Well, memang tidak bisa disamakan begitu saja. Bencana besar akibat perubahan iklim masih belum bisa diramalkan kapan akan terjadi. Meskipun demikian, perlahan tapi pasti efek dari perubahan iklim pasti terasa. Lalu bagaimana peran pers dalam kasus ini?

Eric Pooley dalam papernya mencoba membahas mengenai ‘perang’ antara kubu ‘lingkungan’ dan ‘industri’ dalam hal perubahan iklim. Apakah perubahan iklim benar2 terjadi atau kah hanya mitos belaka? Perlukah penerapan kebijakan ‘hijau’ berkaitan dengan penurunan emisi gas rumah kaca? Apa yang akan terjadi apabila kita tidak melakukan usaha apapun? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa sangat berbeda, tergantung kepentingan.

Kubu pertama adalah EDF alias Environmental Defence Fund–Badan Pertahanan Lingkungan. Kubu ini merupakan pendukung RUU Lieberman-Warner yang mengatur sistem pembatasan-dan-perdagangan atas hak emisi karbon di USA. Sistem ini telah berjalan selama beberapa tahun di Eropa sementara PM  John Howard telah mengkaji sistem ini untuk diterapkan di Australia.

Kubu kedua adalah NAM, National Association of Manufacturers–Asosiasi Manufaktur Nasional, dan ACCF, American Council for Capital Formation–Dewan Amerika untuk Pengembangan Modal. Kubu ini, jelas, menentang kebijakan Lieberman-Warner. Salah satu langkahnya adalah dengan mengeluarkan laporan hasil studi mengenai dampak disahkannya RUU tersebut. Beberapa isi laporan tersebut adalah: harga bensin akan naik hingga $8 per galon (5x lipat harga sekarang), 4 juta lapangan pekerjaan akan hilang, dan GDP akan turun sebesar $669 milyar pada tahun 2030.

Dalam memberitakan ‘perang’ antara kedua kubu tersebut, ada 3 tipe jurnalis: pertama, jurnalis yang berat sebelah. Kedua, jurnalis yang menampilkan apa adanya kedua sisi. Ketiga, jurnalis yang bertindak sebagai wasit, yang mampu membedakan kualitas realita suatu berita dan melaporkan secara gamblang kedua sisi. Eric Pooley memberikan tiga jenis kasus dalam papernya yang menjelaskan lebih rinci ‘perang’ ini dan langkah apa yang diambil para jurnalis dalam memberitakannya.

Dalam paper ini ditegaskan kembali peran jurnalisme dalam mencerdaskan massa dan membentuk opini. Satu hal yang pasti, para ilmuwan telah sepakat bahwa perubahan iklim benar2 terjadi, dan hampir semuanya meyakini akan bahaya yang dapat ditimbulkannya. Di sisi lain, para ekonom pun menganjurkan agar pemerintah melakukan usaha yang nyata untuk mengurangi laju perubahan iklim (it’s impossible to be reversed). Usaha-usaha ini antara lain adalah: pembatasan-dan-perdagangan emisi gas rumah kaca, peningkatan efisiensi bahan bakar fosil, dan pengembangan serta pemanfaatan energi alternatif dan terbarukan. Tidak bisa dipungkiri bahwa kebijakan tersebut akan menghambat perekonomian terutama dalam jangka pendek dan menengah. Hal ini lah yang menyebabkan pihak-pihak terkait (i.e. NAM&ACCF) berusaha keras mencegah direalisasikannya kebijakan tersebut. Meskipun EDF meyakini bahwa dalam jangka panjang, kerugian yang dialami akan jauh lebih kecil oleh keuntungan yang bisa kita dapatkan.

Tidak ada seorang pun yang mampu meramalkan masa depan dengan pasti, tidak EDF, tidak pula NAM. Meskipun demikian, adalah tugas pers untuk terus memberitakan secara gamblang dan adil manuver-manuver berbagai pihak, baik pro maupun kontra, dalam membentuk opini publik. Yang pasti, RUU Lieberman-Warner berhasil dimentahkan dan gagal menjadi UU. Sayang, saat itu pers sedang sibuk memberitakan Obama yang berhasil menjadi kandidat presiden dari Demokrat.