Karena Niat Baik Saja Belum Cukup …
Saturday, January 31st, 2009Apakah anda punya cita-cita? Atau.. apakah Anda sedang / pernah berniat melakukan suatu kebaikan? Apakah Anda sudah berusaha untuk mewujudkannya? Sudah seberapa keras usaha Anda berjuang untuk mewujudkannya?

Seringkali saya bertemu dengan teman atau orang-orang di sekitar saya yang memiliki cita-cita tinggi, hebat, dan mulia, serta bermacam-macam niat baik lainnya. Sebagai contoh, banyak teman-teman saya yang bercita-cita untuk kelak menjadi seorang teknokrat yang memiliki kompetensi yang tinggi di bidangnya, ada juga yang bercita-cita menjadi seorang entrepreneur yang sukses dan memiliki perusahaan sendiri, ada yang berniat untuk lebih tekun belajar agama, atau ada pula yang mengagumi tokoh tertentu lalu ingin meneladaninya dan masih banyak lagi lainnya. Saya sendiri? Yang jelas hingga saat ini saya sendiri masih memegang cita-cita yang telah saya canangkan sejak tiga tahun lalu, lain waktu saya akan coba berbagi cerita dengan Anda tentang cita-cita saya. Anyway, saya sangat menghargai, mengapresiasi, dan mendukung semua cita-cita dan niat baik teman-teman saya. Untuk Anda yang merasa belum memiliki cita-cita, ayo coba pikirkan dan renungkan hal-hal apa yang ingin anda lakukan di masa depan. Jangan pernah takut untuk bermimpi dan jangan pernah takut untuk memiliki cita-cita setinggi langit. Bercita-cita itu gratis kok dan setiap orang bisa melakukannya. Tapi…, apakah sudah cukup hanya sampai dengan memiliki cita-cita yang tinggi atau niat baik saja?
Dari sekian banyak teman-teman saya, ternyata tidak semuanya serius dan bersungguh-sungguh untuk berusaha mewujudkan cita-cita dan niat baiknya. Ada yang berhenti hanya sampai di lisan saja. Ada pula yang masih ragu-ragu ketika dihadapkan pada pilihan untuk memilih jalan yang sukar guna mengejar cita-citanya atau memilih jalan yang mudah dan mengubur cita-citanya. Kawan, mahar dari sebuah cita-cita adalah kerja keras dan pengorbanan. Tidak ada ceritanya sebuah kesuksesan itu diperoleh dengan berleha-leha atau dengan kita hanya terus berlindung dibalik selimut kenyamanan kita selama ini. Apakah kalian masih berpikir seperti ini,
“Ah, saya akan mewujudkan cita-cita saya jika jalannya mudah saja” ?
Atau mungkin berpikir seperti ini,
“Waduh, jalannya sulit.. saya tunggu dulu ah sampai saya menemukan jalan yang lebih mudah”?
Pertimbangan dalam mengambil keputusan itu memang penting, tapi bukan berarti itu selalu menjadi alasan bagi kita untuk menghindar menempuh jalan yang sulit untuk mengejar cita-cita kita. Tidak selamanya kita dapat terus menerus menghindar dari namanya kesulitan, suatu saat kita harus berani mengambil jalan terjal itu. Memang jalan itu susah, terjal, berduri, panjang dan berliku. Tapi yakinlah, ketika kita menghadapi sebuah kesusahan, Yang Maha Mengetahui telah mengetahui dan mengukur kadar kemampuan kita untuk mengatasinya.
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Q.S. Al-Baqarah : 286)
Ketika menghadapi kesusahan, jangan pernah bersedih dan berputus asa karena Yang Maha Pemberi Masalah juga merupakan Yang Maha Memiliki Semua Solusi. Mengejar cita-cita di dunia juga jangan sampai membuat kita melupakan cita-cita sejati yang seharusnya kita tanamkan di dalam diri kita.
Barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barang siapa menghendaki keberuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan di dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat. (Q.S.Asy-Syuuraa : 20)
Mari kita berjuang bersama mewujudkan cita-cita. Jangan pernah takut melangkah dan menempuh jalan terjal di depan kita. Ingatlah bahwa kita tidak berjalan sendirian. Kawan.., sebagai penutup hanya ini yang dapat saya katakan
Cita-cita itu bukan hanya untuk disimpan di dalam angan-angan, tetapi untuk diperjuangkan menjadi kenyataan.













