Archive for December, 2008

Cara Baru Bermusik

Wednesday, December 31st, 2008


Orang bilang 'saat seseorang kehilangan indranya, pastilah Allah melebihkan indra yg lain untuknya.' Inilah yg biasa terjadi diatas kereta lokal ekonomi jurusan padalarang-cicalengka. Banyak orang yg kehilangan indra penglihatannya mahir mendendangkan lagu sekaligus menjadi pemain musik serba bisa.

Tapi kali ini ada 1 hal lagi yg membuat istimewa. Alunan nada dari gitar yg dipetiknya berasal dari permainan tangan yg tak biasa.

Setiap orang punya caranya tersendiri untuk belajar dan untuk hidup. Jadi, kenapa takut menjadi seseorang yg berbeda?!

KSEI Photographer goes to bandung [part.2]

Monday, December 29th, 2008

KSEI photographer goes to Bandung

Monday, December 29th, 2008
mo banyak mo dikit,,,

reborn

Sunday, December 28th, 2008
my pages in this year has almost comes to an end. many things i have achieved during these past times, many things i overlooked and missed, but all i can say mission is accomplished with satisfying process. yes, what matter most (well, at least to me) is process, a progress we all must go through in every [...]

2nd Mission Completed

Thursday, December 25th, 2008


Magelang, 25 Desember 2008, pkl 15.00

Borobudur, pesan dari masa silam saat masa keemasan

Waktu bisa menelan segalanya
Kemegahan tangan manusia terasa hampa
Namun cerita lama tak menyerah begitu saja
Meski asam alam dan keserakahan menjadi tangan-tangan masa

Borobudur seakan bercerita

Season Greeting 2009

Thursday, December 25th, 2008

addthis_url = 'http%3A%2F%2Fandhy.qwords.net%2Fseason-greeting-2009%2F'; addthis_title = 'Season+Greeting+2009'; addthis_pub = '';

1st Mission Completed

Thursday, December 25th, 2008


Akad nikah Akh Anam El01 dan Teh Sani Fa01 di Secang.

Barakallah...
Semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah, warahmah.

Mari kita lanjutkan.

1st Stop

Thursday, December 25th, 2008


Setelah 9 jam perjalanan di kereta Mutiara Selatan, kita turun di Yogjakarta. Sekarang kita terbagi 2 rombongan. Rombongan Sa tinggal 5 orang, Narpen, Agfa, Mata, dan Muluk.

Hujan rintik-rintik disini. Mari cari tempat berteduh.

Jya mata ne!

3J Project

Wednesday, December 24th, 2008


Jalan-Jalan Jawa

Liburan akhir tahun kemaren rombongan NEKAT pergi hiking dan champing ke Gunung Gede. Dan akhir tahun kita harus punya jalan-jalan yg lebih keren dr tahun kemaren.

Tahun ini kita bakalan Jalan-jalan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kota-kota dan tempat yg bakal kita kunjungi adalah Jogja, Magelang, Madiun, Magetan, Surabaya, Gresik, Probolinggo, Gn Lawu, Gn Bromo, dan Rafting. Semua dalam 7 hari. Hwah... Kenyang pasti jalan-jalan-nya.

Sebelum cerita-cerita perjalanan, mari kita perkenalkan anggota grup Nekat. Pertama, pastinya diriku. Anggota lainnya: Agfa, Ade, Anjas, Mata, Muluk, Syafiq dan anggota terbaru kita Narpen.

Nah mari kita mulai.

Bandung, 24 Desember 2008, pkl 17.00 WIB
Petualangan DIMULAI....

Bisikan Lembut DariNya

Wednesday, December 24th, 2008
Jangan paksa kata Ungkapkan Sayangku padamu Jangan paksa benda Ungkapkan Kasihku padamu Diamku adalah sayangku Bicaraku itulah kasihku Tawaku adalah sayangku Sedihku itulah kasihku Gerakku adalah sayangku Pikiranku itulah kasihku             Duniaku ungkapan sayangku             Jiwaku ungkapan kasihku             Takkan sanggup kata             Takkan sanggup benda   Puisi dari temennya amy, ntah kenapa tadi malem pas nangis amy terngiang2 ama puisi ini… menyadari aja bahwa yang namanya sayang itu ga perlu diungkapkan dengan [...]

Hangat

Wednesday, December 17th, 2008
Hari ini aku pulang cepat. Selain ingin menyelesaikan membaca Maryamah Karpov yang rencananya mau dipinjem temen, juga karena badan mulai terasa capek, ngelu. Akhir-akhir ini, kerjaan sudah mulai peak. Biasanya pekerjaan mulai peak ketika mendekati deadline, dan kali ini bukan sekedar deadline, tapi very-hard deadline : chip submission*.

Pulang kerja naik motor, aku mampir ke Yomart, confinient store dekat rumah. Jarak kontrakanku dengan tempat kerja memeang tidak terlalu jauh, sekitar tiga kali panjang lapangan bola, tapi dengan kontur jalan yang agak-sedikit naik turun.

Di Yomart kubeli beberapa snack, keripik singkong, kacang Sukro, Lemon Water, yang ada tulisan katakana-nya –remon(g) wateru, dan beberapa bungkus Energen. Berharap bisa menikmatinya sambil membaca buku setibanya dirumah.

Ngomong-ngomong tentang Lemon Water, jadi mengingatkanku akan minuman dingin yang dijual di selling machine di pinggir-pinggir jalan di Fukuoka. Tinggal masukkan uang, pencet minuman yang diinginkan, keluar botol minuman yang masih dingin, atau panas kalau mau. Tinggal pilih. Kuingat rasanya mirip sekali dengan Lemon Water ini. Pikiranku melayang-layang, mengingat kembali masa-masa indah itu. Ah, itu sebabnya, aku suka beli Lemon Water. Bukan kenapa-napa, karena alasan emotional saja.

“Semuanya 15.125 rupiah, Pak.” kata mbak tellernya. Kuambil uang pecahan 50 ribuan. Teller mulai memencet-mencet tuts keyboard, lalu keluar selembar struk. Tertulis “kembali 34.875 rupiah”. Mbak teller mengambil kembalian dari laci disusun-susun berdasarkan jenis uang. Dari receh seratusan sampai pecahan dua puluh ribuan. Aku hanya dapat kembalian 34.800 rupiah, seperti biasa. Kebiasaan yang tidak biasa, setidaknya untuk dua negara yang pernah kukunjungi, Jepang dan Singapore.



Teringat kata-kata Pak Eko dulu waktu melihat aku mengomentari uang recehan Yen yang pecahan terkecilnya adalah 1 Yen, “Uang 1 Yen itu berharga bagi orang sini.”, katanya, “Kalau orang beli sesuatu lalu kembaliannya kurang 1 Yen saja, bisa marah-marah mereka.” 1 Yen waktu itu setara dengan 80 rupiah. Begitu pula Singapore, tidak pernah kulihat uang kembalian yang diberikan lebih sedikit dari yang tertera pada struk.

Mafia, kupikir. Kalau setiap hari, pada seratus yang orang membeli di confinient store –yang tergolong kecil itu-- uang kembalian 75 rupiah tidak pernah dikembalikan, maka ada 7500 rupiah kelebihan tiap harinya. Jumlah yang tidak cukup untuk menyebutnya sebagai ketidakadilan. Mafia.

Aku berfikir kenapa tidak dibuat bulat saja harganya, jadi 15.200 rupiah, toh kembaliannya tetap sama. Aku tidak mengerti kecuali dilihat dari teori pajak: “kalau dijual 15.200 ya pajak penjualannya akan lebih besar dari jika dijual 15.125 rupiah”. Eh, bukankah produsen menjual ke confinient store dalam jumlah yang besar. Yang lebih untung justru Yomart dan kawan-kawan.

Perutku mulai mual. Sudah saatnya meninggalkan Yomart beserta struk-struk-nya yang absurd. Aku terhuyung-huyung memasuki rumah yang kelihatan ramai, kalau tidak mau dibilang kacau. Amboi, bau apa ini? Anak-anak kontrakan sedang masak-masak, nih? Rupanya pempek Palembang yang tadi pagi dikirim teman mas Yarka. Kutinggalkan ribut-ribut itu, langsung masuk kamar.

Hari-hari kututup dengan Lemon Water, struk-struk yang absurd, dan bau pempek dari teman mas Yarka. Kususun meja bacaku yang kubeli dari pasar Punclut beberapa waktu lalu, dari seorang bapak paruh baya. Lumayan, kualitasnya tidak kalah dari meja khas Ikea. Tak lupa kuhidupkan lampu baca favoritku. Cover Maryamah Karpov yang mellow membuat hujan rintik-rintik di luar terasa semakin romantis, plus dua butir coklat Van Hauten-nya mas Dibya yang dibeli dari Singapore. Ah, kawan. Hangat.

*)memasukkan desain ke chip foundry untuk dicetak dalam wafer semikonduktor jadi chip.
*)gambar confinient store : kiri - Singapore, kanan - Fukuoka

Hacking People

Wednesday, December 17th, 2008
Pernah baca novel Digital Fortress? Buku ini ditulis oleh satu pengarang sama yang pernah menulis novel (ilmiah) The Da Vinci Code. Saya sendiri belum baca juga (nantilah, hehe, yang nulis ga valid nih :p).

Nah, novel ini bercerita tentang teknik enkripsi, atau penyandian. Teknik enkripsi sering digunakan untuk melindungi pengiriman data, terutama data digital, agar tidak disadap orang. Seperti yang sedang ngetren sekarang: penyadapan telpon dan SMS oleh KPK, atau bahkan recovery data oleh Roy Suryo atas kasus kekerasan seorang artis. Contoh paling enak adalah penyadapan informasi militer antar pasukan saat perang Dunia ke-2.

Bagaimana cara enkripsi? Caranya adalah dengan mengubah data tersebut kedalam data yang unreadable, tidak bisa dibaca, kecuali oleh yang punya kunci untuk membuka enkripsinya (dekripsi). Enksripsi ini, jadi tidak ada gunanya jika tidak dilakukan pada last-miles, penerima data terakhir. Mengapa? Karena walaupun sudah dienkripsi didepan, dibelakan masih bisa disadap.

Contohnya, chip wireless menggunakan RSA chiper sebagai enkripsi data yang dia terima dari network untuk dikirim lewat udara. OK, diudara tidak bisa disadap. Tapi data kemudian dikirim lewat jaringan internet. Data unencrypted tentunya. Walhasil, orang dengan mudah menyadapnya. Hohoh.

Enkripsi yang paling bagus adalah di last-mile application-nya. Misalnya diletakkan di aplikasi thunderbird. Jadi data masih tidak bisa disadap sebelum sampai ke thuderbird.

Nah, tapi, masih ada satu celah lagi untuk bisa menyadap data tersebut. Data disadap di the very-last-miles nya, ehehehe. Apa itu? Bagaimana bisa terjadi?

Jawabnya adalah hacking people. Sehebat-hebatnya proteksi data di Pentagon, misalnya, kalo ada oknum yang membocorkannya, tetap saja bocor. Teknik sosial mengalahkan teknologi tinggi. Hacking people, membajak data melalui orang, pakai teknik-teknik (baca: ilmu sosial) tertentu. Ehehehe, tul kan? :p

Seri Kebahagiaan: Cinta di Balik Pintu Rumah

Wednesday, December 17th, 2008
Setiap pulang kerja, dalam kondisi badan lelah, mereka yang bekerja di Jakarta masih harus berhadapan dengan kemacetan yang luar biasa. Bukan lagi hitungan menit, selama berjam-jam para pekerja itu berada di dalam mobil, di atas motor, bahkan lebih banyak lagi yang berhimpitan dalam angkutan umum bercampur dengan peluh dan aroma tidak sedap semua orang.

Padahal pada saat pulang kerja, yang ada hanyalah energi sisa setelah dipagi hari kena macet, lalu bekerja 8 jam dengan beban kerja yang tidak ringan. Bayangkan, bagaimana kondisi fisik dan psikis seorang pekerja ibukota saat sampai di rumah.

Saya juga merasakan itu, namun semua tantangan itu saya anggap seperti sebuah pengkondisian untuk mendapatkan sebuah kenyamanan. Karena setiap kali sampai dirumah, senyum manis nan tulus istri tercinta senantiasa menyambut penuh dengan cinta, seakan memupus semua kepenatan yang tadi dirasakan.

Setiap kali jarak semakin dekat kerumah, kepenatan yang tadi memuncak, reda secara perlahan berganti dengan harapan sebuah sambutan hangat namun menyejukan hati. Wajah saya yang cemberut sisa bergelut dengan kemacetan dan berbagai ketidaknyamanan hari itu, juga perlahan netral dan kemudian berubah menjadi senyuman harap seiring semakin dekat jarak bertemu wajah berseri sang istri.

Sesampainya dirumah, menjelang mengetuk pintu, kepenatan itu seperti tinggal sisa-sisa saja. Hati saya terasa begitu nyaman yang langsung direspon tubuh dengan efek rasa rileks. Kuketuk pintu rumah seraya memberi salam, tak lama terdengar jawaban salam yang begitu halus menenangkan jiwa, ya... itu suara istriku, wajahnya menyembul dibalik pintu menyambutku dengan senyum manis dan binar matanya yang penuh kerinduan, kerinduan pada diriku. Dia mencium tanganku dan aku kecup keningnya dengan penuh rasa cinta. Subhanallah... inilah cinta, inilah taman syurga yang ada dunia. Rasanya.. istriku adalah bidadari paling cantik didunia.

Tak bisa saya bayangkan bagaimana rasanya seseorang yang memiliki pengalaman yang bertolak belakang dengan saya. Dalam kondisi penat pulang bekerja, tak ada salam diucapkan dan tak ada salam sebagai sambutan. Apalagi disambut dengan berbagai tuntutan yang semakin membebani pundak dan psikis. Penat belum hilang, isi kepala semakin penuh. Naudzu billahi min dzalik....

Ketika saya SMP dulu, saya pernah melihat seorang bapak yang baru pulang kerja berdiri didepan pintu rumahnya. Dia diam termangu menundukan kepala seraya menyenderkannya dipintu itu. Dia tampak kelelahan, namun sang istri tak membukakan pintu untuknya. Dari dalam terdengar suara keras,

“Tadi bapak janji apa sama saya. Katanya pulang jam 7 malam, ini udah jam 9 baru sampe?!”

Lelaki itu tak menjawab, ia hanya diam dan masih menyenderkan kepalanya yang tertunduk itu dipintu. Tak lama kemudian ia ngeloyor pergi ke sebuah warung kopi didepan jalan, menghabiskan berbatang-batang rokok sambil menyeruput secangkir kopi. Entah malam itu dia bisa masuk kerumahnya atau tidak, yang jelas keesokan harinya dia berangkat kerja seperti biasa, namun sepertinya dengan menggunakan baju dinas yang kemarin dipakainya.

Wallahu a’lam......

*Untuk yang sedang belajar mensyukuri yang ada, yang sedang belajar menerima istri/suami apa adanya, diambil dari warnaislam.com

Be a man of your words!

Tuesday, December 16th, 2008

When a person promises something and didn’t deliver at the end, what would we think of the person?
If the person really put in a lot of effort but just that he didn’t have the luck to get it done, then he can be forgiven and be trusted for the next time. But if he didn’t take it seriously and slack all the time and we somehow predicted what would happen, then he doesn’t worth our trust anymore.

Your words and your actions will build other people faith and trust in the words that you speak. So, when you openly pronounce with your words that you’re going to do something, then you should follow suit and backing up your words with serious action. The pattern of being a person who doesn’t back up their words will become incredibly noticeable as to being a liar and he will lose the people faith and trust.

Trust is something very hard to regain once you lose it.

addthis_url = 'http%3A%2F%2Fandhy.qwords.net%2Fbe-a-man-of-your-words%2F'; addthis_title = 'Be+a+man+of+your+words%21'; addthis_pub = '';

Kontemplasi

Tuesday, December 16th, 2008
Disclaimer: bukan narsis, hehe.
28 Nov 2008 @ Gerbang Ganesha
Sejenak refreshing setelah penat seminggu penuh berkutat pada hobby-ku: desain chip :) Sambil merenungi kembali perjalanan yang sudah dilalui .. ya Allah, mudahkanlah segala urusanku ..